Short Course CSSD, 2017

CSSD sebagai salah satu tulang punggung pencegahan dan pengendalian infeksi.

Pelatihan singkat, 3 hari, dengan peserta terbatas untuk memperbanyak diskusi dengan fasilitator. Peserta dapat mengetahui kebijakan terbaru, standar, kompleksitas dan tantangan terkait tugas dan fungsi CSSD, serta skill untuk memastikan peralatan yang aman untuk pasien.

Pelatihan singkat berupa kuliah, diskusi kelas kecil, hands on, sesi tanya jawab dan  diakhiri dengan kunjungan ke CSSD Rumah Sakit.

 

Short Course CSSD RSUD Dr. Soetomo Surabaya

10-12 Oktober 2017

diganti menjadi

14 – 16 Nopember 2017

 

Mengundang sejawat sterilisasi sentral CSSD

  1. Kepala Instalasi/Manajer Sterilisasi Sentral(CSSD)
  2. Petugas/ Staff Sterilisasi Sentral
  3. Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
  4. Petugas Kamar Operasi/Ruang Bedah
  5. Sanitasi
  6. Tenaga Kesehatan di Rumah Sakit : Perawat, Apoteker, Sanitarian, Dokter

 

Dengan fasilitator

  1. Drs. Ali Syamlan, Apt.
  2. Ammar Widitaputra, Apt.
  3. Dr. Agung Dwi Wahyu Widodo
  4. Mucharam, S.Kep, Ns
  5. Dyah Ayu Citrawati, Apt.
  6. Suhariono, SST

 

Peserta akan mendapatkan gambaran pelayanan CSSD di rumah sakit, siap menghadapi akreditasi rumah sakit.

Biaya Rp. 1.695.000,-

Kontak:

031-5501817 (Jam Kerja)

0819 3850 7374 (Any Sukma)

0822 6419 8323 (Dyah Ayu)

Sampai Jumpa di Surabaya!

IMG-20170929-WA0026

Iklan

Pencegahan Infeksi Daerah Operasi (IDO) – Peran Pasien dan Keluarga

Adanya infeksi yang terjadi pada bagian tubuh yang dilakukan tindakan pembedahan disebut sebagai infeksi daerah operasi (IDO) atau surgical site infection (SSI). Kejadian ini pada umumnya jarang terjadi, yaitu terjadi pada 1-3 pasien dari 100 pasien yang menjalani tindakan pembedahan di Negara maju. Namun, WHO menunjukkan data bahwa infeksi daerah operasi merupakan infeksi rumah sakit yang tertinggi di Negara dengan sumber daya yang terbatas.

Kejadian infeksi daerah operasi di Negara dengan sumber daya terbatas mencapai 9x lipat dibandingkan Negara maju.

Tindakan pembedahan bertujuan untuk save lives, menyelamatkan pasien. Tindakan pembedahan yang tidak aman dapat menyebabkan bahaya pada pasien secara signifikan, WHO menyampaikan diantaranya:

  • Angka kematian kotor setelah tindakan pembadah mayor antara 0.5 – 5%;
  • Komplikasi setelah tindakan operasi mencapai 25% pasien yang dilakukan tindakan;
  • Di Negara maju, hamper setengah kejadian yang tidak diharapkan terkaiit dengan pelayanan pembedahan;
  • Setengah kasus tindakan yang tidak aman pada pelayanan pembedahan, dapat dicegah;
  • Kematian karena pembiusan total didapatkan cukup tinggi yaitu 1 dari 150 tindakan yang terjadi di Sub Sahara Afrika.

cath-teamDokter, Perawat bersama dengan tim penunjang lainnya di rumah sakit telah melakukan berbagai kegiatan sesuai dengan WHO Guideline for Safe Surgery, “Safe Surgery Save Lives” pada tahun 2009. Kegiatan yang dilakukan meliputi:

  • Cuci tangan sebelum kontak dengan pasien;
  • Sterilisasi instrumen pembedahan;
  • Cuci tangan operasi, scrub, meliputi tangan dan lengan pembedahan;
  • Menggunakan alat pelindung diri, penutup rambut, masker, gaun dan sarung tangan saat operasi;
  • Memberikan antibiotik profilaksis, apabila dibutuhkan, tepat sebelum pembedahan;
  • Apabila dibutuhkan untuk menghilangkan rambut maka menggunakan clipper, bukan menggunakan pisau (razor); dan
  • Mencuci kulit pasien dengan sabun khusus, sabun antiseptik, untuk membunuh kuman.

 

Tapi, ini tidak cukup, pencegahan infeksi daerah operasi membutuhkan peran pasien dan keluarga.

Baca lebih lanjut

Toolkit Penting dalam Peningkatan Mutu

CSSD yang merupakan sebuah unit penunjang di Rumah Sakit dengan tugas dan fungsi memproses peralatan sehingga aman digunakan oleh pasien.

Untuk menghasilkan CSSD yang berkualitas tidak cukup hanya komitmen untuk bekerja dengan benar sebaik mungkin dan tidak melakukan shortcut. Sangat penting untuk membuat sebuah budaya, transformasi organisasi untuk membawa teori ke dalam pelayanan sterilisasi sehari hari.

CSSD

Dibutuhkan peningkatan mutu yang merupakan usaha komprehensif berbagai macam bidang ilmu; matematika, statistik, riset, logika, teknologi informasi, administrasi, ekonomi, psikologi dan lainnya. Bersama sama dengan art dari masing masing sumber daya manusia, sensitivitas, talenta, kecerdasan berfikir, dan kesetiaan.

Langkah apa yang harus dilakukan? Terkadang sulit bagi kita untuk memulai karena tidak tahu caranya.

Cara paling mudah adalah menggunakan Toolkits/ alat untuk program peningkatan kualitas.

Baca lebih lanjut

Musim Haji, Awas MERS CoV

Saat ini sedang dalam musim haji, dimana dua juta umat Islam dari seluruh dunia berkumpul di Makkah – Madinah, Arab Saudi untuk melakukan ibadah haji. Semoga haji dan umroh mereka diterima Allah SWT. Setelah menunaikan ibadah saatnya umat Islam kembali ke negara asal masing masing. Hal ini terdapat resiko karena adanya MERS CoV.

81412382249_950x600

MERS CoV adalah singkatan dari Middle East Respiratory Syndrome (MERS) yang disebabkan oleh Coronavirus (CoV). Kasus ini pertama kali ditemukan di Arab Saudi pada tahun 2012. Coronavirus merupakan familia virus yang sangat besar yang menyebabkan berbagai jenis penyakit pada manusia, mulai dari flu biasa (common cold) sampai dengan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Pada tahun 2015 terjadi Outbreak terbesar di luar Arab Saudi

 

Apakah ada kasus MERS CoV di Indonesia?

Menurut data WHO sampai dengan 15 Mei 2017 tidak terdapat kasus di Indonesia, namun jangan tidak siap, karena tidak terdapat kasus dapat berarti berbagai hal:

  1. Memang tidak ada kasus MERS CoV, atau
  2. Ada kasus namun Tidak melaporkan, atau
  3. Tidak melakukan screening MERS CoV.

Terdapat 27 Negara yang terdapat kasus MERS CoV meliputi Aljazair, Austria, Bahrain, China, Mesir, Prancis, Jerman, Yunani, Iran, Italia, Jordania, Kuwait, Lebanon, Malaysia, Belanda, Oman, Filipina, Qatar, Korea Selatan, Arab Saudi, Thailand, Tunisia, Turki, Uni Emirat Arab, Inggris Raya, Amerika Serikat, dan Yaman. Total kasus yang telah dikonfirmasi laboratorium sebanyak 2.040 kasus.

 

Bagaimana Penularan MERS CoV?

MERS pada umumnya adalah penularan dari hewan ke manusia, namun dimungkinkan penularan manusia ke manusia.

Hewan yang terindikasi sebagai sumber MERS CoV yaitu unta arab dengan satu punuk (dromedary camel), sementara berbagai macam hewan lain seperti sapi, kambing, domba, kerbau, babi dan burung liar tidak terbukti sebagai reservoir MERS CoV setelah diuji laboratorium.

two-men-looking-at-a-camel-pubdom-pixabay

Unta Punuk Satu sebagai Reservoir MERS CoV

Transmisi manusia ke manusia sulit terjadi namun mungkin terjadi karena kontak yang sangat dekat, misalnya saat perawatan di rumah sakit antara petugas dengan pasien MERS CoV tanpa penjagaan kebersihan.

Baca lebih lanjut

Update – Kebijakan Pencegahan Pengendalian Infeksi

Kebijakan pencegahan dan pengendalian infeksi yang biasa dikenal yaitu:

  • Kepmenkes 270 tahun 2007, tentang Pedoman Manajerial, dan
  • Kepmenkes 382 tahun 2007, tentang Pedoman PPI

 

Pada tahun 2017, Kementerian kesehatan telah memberikan update Peraturan Menteri Kesehatan No. 27 tahun 2017 yang ditetapkan pada tanggal 12 Mei 2017 dan diundangkan pada 19 Juni 2017.

Untitled

Permenkes No. 27 tahun 2017 dapat didownload disini

Baca lebih lanjut

Metode Sterilisasi yang Terlarang

Sterilisasi adalah pemusnahan semua jenis mikroorganisme, termasuk spora bakteri (spesies Clostridium dan Bacillus). Prion tidak dapat dimusnahkan dengan sterilisasi rutin.

mikroorganisme.jpg

Sterilisasi dilakukan pada peralatan kritis, dan apabila memungkinkan pada peralatan semi kritis.

Metode sterilisasi yang baik harus dapat dilakukan validasi. Validasi dilakukan untuk memastikan proses sterilisasi berjalan cukup, aman dan efektif. Validasi juga memastikan semua proses berjalan secara seragam dengan kualitas yang sama. Validasi dengan melakukan Installation Qualification (IQ), Operational Qualification (OQ) dan Performance Qualification (PQ) menggunakan berbagai macam indikator sterilisasi.

Bagaimana apabila sterilisator tidak dapat dilakukan validasi? Ini merupakan salah satu tanda metode sterilisasi yang terlarang

Baca lebih lanjut

Kegagalan Bowie Dick Test

Bowie-Dick test (BD test) adalah uji indicator kimia spesifik yang dikembangkan untuk memantau efektifitas penghilangan udara pada mesin sterilisasi uap prevakum (penghilangan udara secara mekanis).

BD test harus dilakukan setiap hari, setelah mesin dinyalakan sebagai uji fungsionalitas mesin. BD test tidak tergantikan untuk uji rutin.

Uji ini bukan merupakan uji yang menunjukkan sterilitas instrument yang akan disterilkan. BD test dilakukan dalam chamber kosong, dengan parameter yang tertentu. Tidak diperbolehkan untuk memperpanjang parameter suhu atau waktu.

Standar sterilisator yaitu European Norm EN 285 maupun American National Standard ANSI/ AAMI ST 79 menunjukkan 3 jenis uji yang dimungkinkan:

  1. American BD-Test: Penghilangan udara sesuai dengan ANSI/ AAMI ST 79 yang setara dengan kemasan katun 4 Kg dan divalidasi sesuai dengan metode uji ISO 11140-1 + 5.
  2. European BD-Test: Penghilangan udara dan uji penetrasi uap sesuai dengan metode uji EN ISO 11140-1 + 4 dengan standar kemasan uji 7 Kg sesuai dengan EN 285
  3. Hollow load test sesuai dengan EN 867-5 yang merupakan uji tambahan pada standar EN 285.

bowiedick_graphic

Hasil BD test harus mencapai perubahan warna (biasanya menjadi hitam, tergantung merk) yang seragam. Namun ada kalanya hasil gagal, sehingga perubahan tidak seragam. Apa saja yang harus dilakukan untuk mencari penyebabnya?

Baca lebih lanjut

Kewaspadaan Isolasi dan Praktek Pengurangan Resiko Infeksi yang Tidak Efektif

Berbagai macam kewaspadaan isolasi telah dilakukan sejak tahun 1970 dalam rangka pencegahan dan pengendalian infeksi. Pada tahun 1983, CDC melakukan modifikasi sesuai dengan kategori infeksi, spesifik penyakit dan terkait kesiapan fasilitas. Pada tahun 1984, Lynch mengembangkan Body Substance Isolation (BSI) terkait penggunaan sarung tangan. Saat terjadi epidemic HIV/AIDS pada tahun 1987, CDC mengeluarkan strategi pencegahan penyakit melalui darah (kewaspadaan universal).

Pada tahun 1996, CDC mengembangkan pedoman kewaspadaan isolasi yang meliputi:

  1. Kewaspadaan Baku (Standar Precaution), yang mirip dengan kewaspadaan universal dikombinasikan dengan BSItmpbc8654
  2. Kewaspadaan Berbasis Transmisi (Transmission based Precaution), berdasarkan diagnosa pasien atau dugaan infeksi melalui rute kontak, droplet atau airborne, atau kejadian infeksi maupun kolonisasi dengan organisme epidemic.CDC Transmission-Based Precautions

Baca lebih lanjut

4 Alasan untuk Membangun Rumah Sakit yang Lebih Sehat

Pernahkah ada penolakan warga atas pembangunan rumah sakit di sekitarnya?

dengan kata kunci “warga menolak pembangunan rumah sakit” pada penelusuran google.co.id didapatkan 458.000 hasil artikel penolakan warga sekitar

Jpeg

Kesehatan Lingkungan; Limbah Padat, Limbah Cair, Limbah Udara

Apa alasan utama masyarakat menolak pembangunan rumah sakit?

“Rumah sakit ini akan mengancam kami karena limbah padat dan limbah cair. Bahkan limbah udara, ini menjadi ancaman bagi kami dan keluarga kami. Pembangunan RS ini juga tidak ada uji publik dan sosialisasi kepada masyarakat sekitar”

Jawaban di atas adalah jawaban umum yang biasa didengar saat penolakan pembangunan rumah sakit

Di lain sisi sangat penting terdapat Rumah Sakit di sekitar masyarakat sehingga masyarakat mendapatkan akses kesehatan yang lebih baik.

Bagaimana membangun rumah sakit yang lebih baik? Yang lebih sehat tehadap lingkungan.

Terdapat sebuah inisiatif, Healthier Hospitals Initiative, yang mendorong rumah sakit menjadi sebuah model bisnis dengan pengaruh kepada lingkungan yang lebih kecil.

Inisiatif Rumah Sakit yang sehat meliputi:

  • Sampah dan limbah yang lebih sedikit
  • Pengurangan penggunaan energi (listrik), air dan sumber daya alami lainnya
  • Mencegah rusaknya lingkungan dari penggunaan bahan kimia
  • Melakukan praktek gizi yang berkelanjutan

Inisiatif ini akan meningkatkan keberlangsungan rumah sakit, dan rumah sakit yang lebih sehat akan memberikan hasil yang baik pada pasien, dokter dan tenaga kesehatan lainnya serta manajemen rumah sakit.

Baca lebih lanjut

Bagaimana Memperlakukan Instrumen Baru dan Instrumen Paska Perbaikan

Pernahkah terjadi tanda karat pada instrumen yang baru?

Instrumen bahkan masih dalam kemasan plastik dari pabrikan!

sehingga timbul tanda karat berupa titik-titik berwarna coklat

corrosion

Instrumen adalah asset yang sangat berharga di Rumah Sakit. Dalam investasi rumah sakit, pembelian instrumen adalah pengeluaran modal yang sangat besar.

Maka, instrumen memerlukan penanganan yang tepat. Penanganan yang tepat mulai saat instrumen baru datang ke rumah sakit. Penanganan yang kurang tepat akan merusak instrumen dan memberikan kerugian untuk rumah sakit.

Baca lebih lanjut