Kesiagaan Bencana di Sterilisasi Sentral

Istimewa

Adalah sebuah rutinitas sehari hari, petugas dan manajer Sterilisasi Sentral (CSSD) berangkat bekerja pada pagi hari untuk mengerjakan pemrosesan peralatan/ instrumen. Saat tiba di rumah sakit, telah terbayangkan tugas yang perlu dilakukan. Manajer Sterilisasi Sentral melakukan koordinasi penjadwalan pembedahan, pengaturan jadwal petugas, pengecekan ketersediaan linen dan instrumen dan kegiatan lainnya yang telah biasa dilakukan. Petugas Sterilisasi Sentral melakukan persiapan bekerja kemudian melakukan pencucian, pengeringan, pengemasan, sterilisasi, penyimpanan dan distribusi.

Namun, hal ini dapat berubah secara tiba tiba. Sangat mungkin terjadi kondisi lainnya, kondisi yang disebut sebagai Bencana. Kondisi yang memberikan perubahan drastis pada setiap perencanaan yang secara rutin telah dilakukan di Sterilisasi Sentral.

prepare-for-disaster-838x0_q67_crop-smart

Baca lebih lanjut

Iklan

Hasil Survey Pelayanan Sterilisasi Sentral (CSSD) di Indonesia

Melanjutkan topik Survey Pelayanan Sterilisasi Sentral (CSSD) yang kami tuliskan pada Februari 2018. Bersama ini akan disampaikan hasil survey tersebut.

Slide2

Ucapan terima kasih dan penghargaan sebesar besarnya kepada seluruh responden yang memberikan datanya. Termasuk kepada responden yang tidak menyebutkan nama rumah sakit atau fasilitas kesehatan.

Jumlah responden yang masuk sebanyak 107 data yang kemudian dilakukan validasi. Terdapat 10 data yang dianggap tidak valid, dengan alasan; double data. Sehingga data yang valid sebanyak 97 data, berasal dari 70 rumah sakit pemerintah dan 27 rumah sakit swasta.

Slide3

Responden masyoritas sebanyak 81% berasal dari Pulau Jawa, 4% dari Wilayah Kalimantan, 6% dari Wilayah Sumatera dan Kepulauan, 5% dari Bali dan Nusa Tenggara, serta 4% dari Sulawesi. Data dari wilayah Maluku, Kepulauan Maluku dan Papua masih belum tersedia. Sangat besar harapan pada survey berikutnya terdapat perwakilan dari area Maluku, Kepulauan Maluku dan Papua.Slide4

Tipe rumah sakit responden terdiri dari 17% rumah sakit tipe A, 49% rumah sakit tipe B, 33% rumah sakit tipe C, dan hanya 1% rumah sakit tipe D. Besaran persentase tipe rumah sakit cukup mewakili kondisi rumah sakit di Indonesia yang telah melakukan proses sterilisasi.

Baca lebih lanjut

Komplain Pasien

Berapa banyak kasus komplain pasien? Apabila dilakukan searching di situs pencari google.com maka dengan kata kunci “patient complaint” maka akan didapatkan angka sebesar 103.000.000 tautan, ya 103 juta.

Apakah kita berkecil hati sebagai petugas kesehatan yang bekerja di rumah sakit? Ternyata selalu ada solusi dari setiap potensial resiko/ masalah yang ada. Dengan situs pencari google.com, dengan kata kunci “dealing with patient complaint” maka akan didapatkan angka sebesar 131.000.000 tautan, 131 juta yang artinya lebih banyak 30 juta tautan untuk menangani atau memberikan solusi pada komplain pasien di rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya.

Komplain merupakan hal yang serius dan dapat mempengaruhi kesehatan:

  • 95 persen tenaga medis mengalami stress saat proses komplain
  • Stress terbesar saat menerima komplain dari pasien maupun keluarga pasien
  • 50 persen mengaku mempengaruhi kehidupan pribadi maupun kehidupan profesional
  • Hanya 20 persen yang mengaku stress dapat terselesaikan pada saat kasus komplain ditutup

Related image

Manajemen resiko adalah mencegah adanya komplain atau paling tidak meminimalkan dampak yang terjadi. Apabila komplain terjadi secara berulang maka lakukan usaha untuk menyelesaikan komplain secara cepat dan efisien, hal ini akan memberikan keuntungan bagi rumah sakit, tenaga medis dan tenaga kesehatan, serta untuk pasien.

Baca lebih lanjut

Survey Pelayanan Sterilisasi Sentral (CSSD)

Sterilisasi sentral (CSSD) memiliki peran yang besar dalam pencegahan pengendalian infeksi dan peningkatan keselamatan pasien.

Bagaimana demografi pelayanan sterilisasi sentral di Indonesia? pertanyaan yang sulit untuk dijawab, bahkan oleh HISSI (Himpunan Sterilisasi Sentral Indonesia), organisasi seminat yang menghimpun praktisi CSSD di Indonesia.

Oleh karena itu, untuk membentuk sebuah demografi pelayanan sterilisasi sentral di Indonesia, sekaligus untuk mempersiapkan pertemuan organisasi sterilisasi sentral se Asia Tenggara. Mohon bantuannya untuk mengisi form survey di bawah ini:

https://goo.gl/forms/C0Pb8BDe6TGM59pw2

Tujuan survey adalah untuk melihat demografi pelayanan sterilisasi sentral di Indonesia yang meliputi:

  1. Sentralisasi pemrosesan instrumen
  2. Pelatihan yang telah diikuti petugas sterilisasi sentral
  3. Metode pembersihan mekanis dibandingkan pembersihan manual
  4. Metode pengemasan yang digunakan
  5. Metode sterilisasi yang digunakan
  6. Mekanisme penjaminan mutu yang dilakukan
  7. Pemahaman karantina dan penarikan ulang
  8. Dasar pustaka yang digunakan dalam membuat kebijakan dan prosedur

Semoga terbentuk demografi yang berguna untuk pengembangan pelayanan sterilisasi sentral di Indonesia.

https://goo.gl/forms/C0Pb8BDe6TGM59pw2

Survey CSSD

Service Supply Satisfaction – Kepuasan Pelanggan Sterilisasi Sentral

Apa bisnis utama Sterilisasi Sentral/ CSSD?

Sterilisasi sentral dipercaya untuk memproses peralatan kesehatan pakai ulang untuk siap digunakan. Sehingga sangat penting bagi sterilisasi sentral untuk mengikuti seluruh kebijakan rumah sakit dan juga mengikuti standar nasional yang berdasarkan evidence. Pelayanan yang diberikan sterilisasi sentral adalah termasuk salah satu bagian yang memastikan keselamatan pasien.

Ada beberapa istilah yang merujuk kepada sterilisasi sentral;

  • SSD; Sterile SERVICE Unit
  • TSSU; Theatre sterile SUPPLY Unit
  • CSSD; Central Sterile SUPPLY Department.
  • CSSD; Central Sterile SERVICE Department

Apa yang menarik?

Bahwa istilah sterilisasi sentral memiliki dua kata kunci “SERVICE” dan “SUPPLY”, Pelayanan dan Suplai. Dan saat berhubungan dengan pelanggan maka kata kunci berikutnya adalah “SATISFACTION”, Kepuasan.

SERVICE, SUPPLY and SATISFACTION

Pelayanan, Suplai, dan Kepuasan

Kepuasan pelanggan juga menjadi salah satu indikator mutu pelayanan sterilisasi sentral. Semua pihak yang memiliki harapan terhadap barang/ produk dan pelayanan sterilisasi sentral disebut sebagai pelanggan atau kustomer. Pelanggan sterilisasi sentral meliputi; pasien, dokter, perawat, petugas kamar operasi dan lainnya. Mutu pelayanan sterilisasi sentral diukur dari kacamata pelanggan.    Baca lebih lanjut

Kolaborasi Sterilisasi Sentral-Pencegahan Pengendalian Infeksi

Sterilisasi sentral (CSSD) mempunyai peran yang signifikan di rumah sakit, termasuk dalam pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI). Adanya kejadian yang tidak diharapkan (KTD) berupa paparan atau infeksi karena pemrosesan instrumen dan peralatan yang tidak sempurna di sterilisasi sentral adalah hal yang nyata, banyak kasus yang dapat dibaca di media elektronik maupun jurnal. Sehingga, dibutuhkan kolaborasi yang sangat erat dan berbagi keahlian serta pengalaman antara sterilisasi sentral dan tim pencegahan pengendalian infeksi.
Sebagai manajer di sterilisasi sentral atau staf sterilisasi sentral,
  1. Apakah anda mengetahui siapa tim pencegahan dan pengendalian infeksi yang bertugas/ mengampu di sterilisasi sentral?
  2. Apakah anda melibatkan tim pencegahan dan pengendalian infeksi dalam fungsi di sterilisasi sentral?
  3. Sebagai sebuah unit atau instalasi atau departemen, apakah sterilisasi sentral ikut serta dalam komite pencegahan dan pengendalian infeksi?
  4. Apakah anda memberikan isu atau kondisi terkait pemrosesan instrumen dan peralatan seperti; endoskopi, bronkoskopi, probe vaginal dan rectal, ke komite pencegahan dan pengendalian infeksi?
  5. Apakah terdapat usaha untuk melakukan standarisasi untuk meminimalkan variasi di lokasi desentralisasi untuk meningkatkan outcome?

Jika jawaban di atas terdapat jawaban “tidak”, maka terdapat pekerjaan yang harus diselesaikan antara manajer sterilisasi sentral dan komite/ tim pencegahan pengendalian infeksi.

Solusi menang-menang, win-win solution, berarti Kolaborasi Sterilisasi Sentral dengan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi

Presentation1

CDC dan FDA Amerika pernah mengeluarkan peringatan melalui Health Alert Netwok (HAN) pada tahun 2015, yang memberitahukan pentingnya penyedia kesehatan dan fasilitas kesehatan, rumah sakit akan pentingnya untuk melakukan pembersihan, dan disinfeksi atau sterilisasi peralatan kesehatan pakai ulang. Kejadian outbreak yang berakibat keluarnya rekomendasi tim pencegahan pengendalian infeksi selalu menunjukkan penyimpangan pemrosesan peralatan sehingga terdapat celah pada keselamatan pasien.

Peringatan yang dikeluarkan CDC dan FDA kepada seluruh fasilitas kesehatan; rumah sakit, rumah sakit khusus bedah, klinik, dan praktek dokter, untuk melakukan:
  1. Pengkajian ulang praktek pemrosesan peralatan yang ada di fasilitas kesehatan untuk memastikan apakan semua langkah telah sesuai dengan rekomendasi pabrikan.
  2. Mempunyai kebijakan dan prosedur yang konsisten dengan standar dan pedoman.
Maka, ini adalah momen yang baik bagi sterilisasi sentral untuk melakukan kolaborasi, diskusi terbuka dan kerjasama dengan tim pencegahan pengendalian infeksi, apabila belum dilakukan.
Gunakan keahlian sterilisasi sentral untuk berkolaborasi secara efektif dengan tim pencegahan pengendalian infeksi untuk meningkatkan kualitas dan keselamatan pasien. Lakukan peran aktif untuk melakukan identifikasi kekurangan, gap analysis dalam pemrosesan peralatan kritis dan semi-kritis, sebelum membahayakan pasien, petugas dan lingkungan.
Tim pencegahan dan pengendalian infeksi juga dapat datang ke sterilisasi sentral, serta ikut serta dalam pengembangan kebijakan dan prosedur, membantuk menetapkan praktek terbaik dan melakukan edukasi petugas sterilisasi sentral untuk memastikan peran dalam pelapran, pencegahan transmisi infeksi dan pencegahan outbreak.

Baca lebih lanjut

Kasus Difteri, dalam kacamata Pengendalian dan Pencegahan Infeksi

Difteri, merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheria, yang paling banyak menginfeksi tenggorokan dan saluran pernafasan atas. Difteri juga memproduksi toksin yang mematikan yang mempengaruhi organ lain. Infeksi difteri mempunyai efek onset yang cepat dengan karakteristik utama adalah nyeri tenggorokan, panas yang tidak terlalu tinggi maupun bengkak di kelenjar sekitar leher. Efek dari toksin difteri dapat menyebabkan myocarditis dan neuropathy perifer. Toksin difteri juga menyebabkan membran dari jaringan yang mati dekat tenggorokan maupun tonsil, sehingga sulit bernafas dan sulit menelan.

 

 

Difteri sempat menjadi Kejadian Luar Biasa di seluruh dunia pada tahun 90-an. Dengan penanganan yang tepat angka tersebut dapat ditekan.

https://i0.wp.com/www.who.int/immunization/monitoring_surveillance/burden/vpd/surveillance_type/passive/big_dtp3_global_coverage.jpg

Bagaimana dengan data di Indonesia, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Difteri 2017 menyatakan jumlah kasus Difteri di Indonesia, dilaporkan sebanyak 775 kasus pada tahun 2013 (19% dari total kasus SEAR), selanjutnya jumlah kasus menurun menjadi 430 pada tahun 2014 (6% dari total kasus SEAR). Jumlah kaus sedikit meningkat pada tahun 2015 sebanyak 259 kasus dan pada tahun 2016 sebanyak 591 kasus.

Kementerian Kesehatan mempunyai 7 strategi dalam pencegahan dan pengendalian difteri;

  1. Penguatan imunisasi rutin Difteri sesuai dengan program imunisasi nasional.
  2. Penemuan dan penatalaksanaan dini kasus Difteri.
  3. Semua kasus Difteri harus dilakukan penyelidikan epidemiologi.
  4. Semua kasus Difteri dirujuk ke Rumah Sakit dan dirawat di ruang isolasi.
  5. Pengambilan spesimen dari kasus dan kasus kontak erat kemudian dikirim ke laboratorium rujukan Difteri untuk dilakukan pemeriksaan kultur atau PCR
  6. Menghentikan transmisi Difteri dengan pemberian prophilaksis terhadap kontak dan karier.
  7. Melakukan Outbreak Response Immunization (ORI) di daerah KLB Difteri

Baca lebih lanjut

Pembersihan, Sisi Pandang Bahan Kimia

Parameter Pembersihan dan Bahan Kimia Pembersih

Untuk mendapatkan output instrument yang bersih, terdapat 4 parameter yang penting untuk dipahami dan dikendalikan;

  • Aksi Mekanis; elbow grease, kekuatan lengan untuk menggosok secara intensif pada pembersihan manual; impingement, kekuatan semprotan air pada mesin pembersih otomatis washer disinfector
  • Suhu; kondisi panas/ dingin pemrosesan yang dilakukan
  • Waktu; lamanya proses pencucian, perendaman, maupun penggosokan
  • Kimia; jenis bahan kimia pembersihan, jenis deterjen, jenis bahan enzimatis.

 

Mengganti satu parameter, membutuhkan perubahan parameter lainnya untuk mendapatkan hasil pemrosesan yang optimal. Lingkaran Sinner.

sinners-circle.jpg

Sinner’s circle, merubah satu parameter akan merubah parameter lainnya

Deterjen enzimatis akan bekerja optimal pada suhu 37 derajat Celcius sampai dengan 60 derajat Celcius. Enzim yang digunakan pada suhu 60 derajat Celcius akan mempunyai efek yang lebih cepat apabila dibandingkan penggunaan pada 37 derajat Celcius. Namun, perhatikan enzim akan rusak apabila suhu penggunaan lebih dari 60 derajat Celcius.

Siklus pembersihan otomatis menggunakan tekanan tinggi akan menghabiskan waktu yang lebih singkat dibandingkan tekanan rendah.

Bahan kimia yang lebih agresif (misal pH basa maupun pH asam) akan menurunkan waktu pemrosesan dibandingkan dengan bahan kimia dengan pH netral.

 

Baca lebih lanjut

Jenis Kotoran yang Melekat di Instrumen

Proses pembersihan yang merupakan bagian dari siklus dekontaminasi sekarang mendapatkan perhatian yang tinggi karena hasil investigasi yang menunjukkan kaitan dengan angka infeksi. Hal ini tentu saja sesuai dengan jargon yang sangat familiar, “you can clean without disinfecting/ sterilizing, but you can not disinfect/ sterilize without cleaning.”

Pembersihan merupakan proses penghilangan kotoran yang terlihat dan tidak terlihat  bersama dengan mikroorganisme kontaminan.

Pembersihan tidak hanya membersihkan kotoran,

juga menghilangkan sebagian besar mikroorganisme

Untuk melakukan pembersihan yang efektif maka sangat penting untuk mengetahui jenis kotoran yang melekat di instrument. Jenis kotoran ditemukan di permukaan instrument tergantung jenis prosedur, kompleksitas instrument, dan variasi instrument yang digunakan di tiap prosedur.

 

Memulai Proses Pembersihan

Apaun jenis prosedur yang dilakukan, pembersihan instrument dan peralatan kesehatan dimulai dari titik penggunaan. Kotoran padat harus dihilangkan di titik pemakaian dan instrument dijaga kelembabannya untuk mencegah kotoran menjadi kering. Pembersihan tetap harus dilakukan sesegera mungkin untuk mencegah terbentuknya biofilm.

Apabila biofilm terbentuk dan menempel pada permukaan instrument, maka akan sulit untuk dibersihkan, serta dapat mengganggu proses disinfeksi dan sterilisasi.

Sebagai aturan umum, CSSD harus mengikuti instruksi tertulis pabrikan, label instruksi pada bahan kimia yang digunakan, memastikan pembersihan yang menyeluruh tercapai dan instrument tidak rusak saat dibersihkan.

Baca lebih lanjut

Short Course CSSD, 2017

CSSD sebagai salah satu tulang punggung pencegahan dan pengendalian infeksi.

Pelatihan singkat, 3 hari, dengan peserta terbatas untuk memperbanyak diskusi dengan fasilitator. Peserta dapat mengetahui kebijakan terbaru, standar, kompleksitas dan tantangan terkait tugas dan fungsi CSSD, serta skill untuk memastikan peralatan yang aman untuk pasien.

Pelatihan singkat berupa kuliah, diskusi kelas kecil, hands on, sesi tanya jawab dan  diakhiri dengan kunjungan ke CSSD Rumah Sakit.

 

Short Course CSSD RSUD Dr. Soetomo Surabaya

10-12 Oktober 2017

diganti menjadi

14 – 16 Nopember 2017

 

Mengundang sejawat sterilisasi sentral CSSD

  1. Kepala Instalasi/Manajer Sterilisasi Sentral(CSSD)
  2. Petugas/ Staff Sterilisasi Sentral
  3. Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
  4. Petugas Kamar Operasi/Ruang Bedah
  5. Sanitasi
  6. Tenaga Kesehatan di Rumah Sakit : Perawat, Apoteker, Sanitarian, Dokter

 

Dengan fasilitator

  1. Drs. Ali Syamlan, Apt.
  2. Ammar Widitaputra, Apt.
  3. Dr. Agung Dwi Wahyu Widodo
  4. Mucharam, S.Kep, Ns
  5. Dyah Ayu Citrawati, Apt.
  6. Suhariono, SST

 

Peserta akan mendapatkan gambaran pelayanan CSSD di rumah sakit, siap menghadapi akreditasi rumah sakit.

Biaya Rp. 1.695.000,-

Kontak:

031-5501817 (Jam Kerja)

0819 3850 7374 (Any Sukma)

0822 6419 8323 (Dyah Ayu)

Sampai Jumpa di Surabaya!

IMG-20170929-WA0026