Jenis Pengemas dan Penggunaannya, Polimer

Polimer merupakan pelindung absolut sebuat peralatan kesehatan steril dari mikroorganisme dan debu. Penyimpanan peralatan kesehatan steril menggunakan polimer akan memperpanjang waktu kadaluwarsa. Polimer mempunyai fisik transparan, sehingga sangat berguna dalam melihat isi kemasan. Beberapa jenis polimer dalam sterilisasi sentral di rumah sakit:

Polietilen

Polietilen merupakan pengemas yang tidak tahan panas, sehingga hanya digunakan pada sterilisasi suhu rendah. Sangat berguna pada sterilisasi etilen oksida. Polietilen digunakan dengan ketebalan 0,076 mm (low density polietilen). Problem penggunaan polietilen adalah sulitnya kelembaban masuk melalui polietilen karena bahan ini tidak dapat ditembus air. Pada sterilisasi etilen oksida, dibutuhkan kelembaban untuk masuknya etilen oksida. Sebagai solusi maka polietilen dikobinasikan dengan sebuah kertas membentuk sebuah pouch. Lapisan plastik dibuat dari basis minyak murni (tanpa menggunakan klorinasi seperti pada PVC).

Dengan penggunaan basis minyak murni maka pembakaran polietilen tidak akan menghasilkan dioksin dan furin yang berbahaya. Lapisan film bersifat netral sehingga tidak melepaskan bahan beracun pada tanah maupun saat pembakaran. Lapisan film merupakan lapisan yang tidak dapat ditembus air, udara dan gas sehingga tidak dapat ditembus bakteri.

Polipropilen dan Polikarbonat

Keduanya merupakan bahan yang tahan panas yang dibentuk dengan 3 lapisan yang digabung menggunakan panas (SMS).

  • Spunbond: dibuat menggunakan serat panjang dan memberikan kekuatan
  • Meltblown: dibuat menggunakan serat pendek, tidak teratur yang memberikan perlindungan

Lapisan SMS memberikan perlindungan anti air dan non toksik.

Dapat digunakan pada sterilisasi uap (autoclave) dan dapat bertahan pada suhu 140 – 150 derajat Celcius. SMS menahan kelembaban sehingga waktu pengeringan harus ditambah. Polipropilen merupakan salah satu pilihan pengemas pada sterilisasi plasma hidrogen peroksida.

Tyvek

Merupakan material polimer sintetik dan serat panjang olefin yang membentuk serat mirip dengan kertas. Tyvek memiliki karakteristik perlindungan yang sangat baik. Stabil secara mekanis dan tidak melepaskan serta saat dibuka. Porositas diatur untuk dapat dilewati oleh udara, etilen oksida dan gas sterilsasi lainnya. Mengkerut pada suhu 118 derajat Celcius dan rusak pada suhu 135 derajat Celcius. Pada umumnya digunakan pada suhu dibawah 65 derajat Celcius.

Tyvek merupakan bahan pengemas pada sterilisasi gas. Mengeluarkan gas etilen oksida dan formaldehid setelah sterilisasi sehingga mengurangi waktu aerasi. Tidak dapat ditembus air dan alkohol serta tahan terhadap kelembaban. Dapat dilakukan penyegelan dengan panas dan dapat dikombinasikan dengan indikator kimia. Penyegelan dilakukan pada suhu dibawah 120 derajat Celcius. Penyegelan yang tepat akan menghasilkan warna yang tidak transparan. Merupakan pilihan utama pada sterilisasi plasma hidrogen peroksida dan dapat digunakan pada etilen oksida.

Pelatihan CSSD Tugurejo Semarang

Mengundang sejawat sterilisasi sentral CSSD
1. Kepala Instalasi/Manajer Sterilisasi Sentral(CSSD)
2. Staff Sterilisasi Sentral
3. Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
4. Staff di Kamar Operasi/Ruang Bedah
5. Sanitasi
6. Tenaga Kesehatan di Rumah Sakit : Perawat, Apoteker, Sanitarian, Dokter

dalam Seminar dan Workshop Sterilisasi Sentral (CSSD)

RSUD Tugurejo Semarang
20-22 Agustus 2014

diadakan oleh RSUD Tugurejo Semarang bekerjasama dengan Himpunan Sterilisasi Sentral Indonesia (HISSI)

Brosur CSSD Depan copy

Brosur CSSD Dalam copy

Jenis Pengemas dan Penggunaannya, Rigid Container

Pengemas keras (Rigid Container) memiliki berbagai macam jenis dengan karakteristik yang berbeda. Karakteristik yang berbeda juga berpengaruh pada kesesuaian metode sterilisasi yang dapat dilalui. Penggunaan rigid container harus sesuai dengan instruksi pabrikan.
Rigid container dibuat dari alumunium, stainless steel, plastik atau kombinasi platik dan logam. Beberapa rigid container memiliki filter bakteri dan beberapa diantaranya memiliiki lubang yang menghambat pertumbuhan bakteri. Bacterial filter dan biobarrier merupakan penghalang yang efektif sepanjang tidak rusak, tidak lubang, dan tidak melepas serat. Bacterial filter dan biobarrier tidak mengkontaminasi isi kemasan dan mudah dibawa.

Rigid Container tanpa filter
Berupa kotak dari stainless steel yang menyalurkan panas selama proses sterilisasi
Pengemas ini hanya dapat digunakan untuk sterilisasi panas kering (oven)

Rigid Container dengan filter
Pengemas untuk sesuai dengan berbagai macam proses sterilisasi harus memiliki lubang. Lubang pada pengemas ini memiliki filter yang memungkinkan pengemas rigid tanpa pengemas eksternal. Filter ini harus dicek dan diganti secara periodik sesuai dengan instruksi pabrikan untuk memastikan filter tetap efektif.
Pengemas ini dapat digunakan untuk sterilisasi uap (autoclave)

Pengemas rigid plastik

Sterile Filter

Rigid Container Autoclave

Jenis Pengemas dan Penggunaannya, Kertas

Jenis pengemas harus dipilih agar sesuai dengan metode sterilisasi yang digunakan. Tidak ada keraguan bahwa untuk mengemas peralatan kesehatan, instrumen dan bahan medik habis pakai steril yang akan digunakan oleh pasien, hanya produk yang sesuai yang dapat digunakan. Produk yang sesuai yaitu produk dengan tingkatan medical grade.
Sangat penting untuk tidak lagi menggunakan, atau membuang, drum trays, tromol, kertas koran, dan kertas daur ulang lainnya yang tidak terkontrol dan memiliki kualitas yang rendah.

Kertas

Wrapping Paper (Kertas Pembungkus)
Bahan ini dapat ditembus oleh uap autoclave. Namun, bahan ini bukan merupakan penghalang mikroorganisme yang efektif karena dapat memberikan bekas, tidak tahan air, dapat menghasilkan serat dan tidak mempunyai porositas yang standar. Karena proses pembuatan yang tidak terstandar, maka kertas pembungkus dapat mengandung bahan kimia beracun. Tidak direkomendasikan menggunakan bahan ini.

Kertas Koran
Kertas koran memiliki kualitas yang sangat rendah. Resin tinta menutupi spora bakteri pada kertas dan dapat mengandung garam kimia beracun (Timbal dan Merkuri). Lebih lanjut, kertas koran sangat mudah robek dan dapat memberikan noda pada instrumen. Tidak direkomendasikan menggunakan bahan ini.

Kertas Daur Ulang
Kertas daur ulang mengandung sulfit dan kertas kayu pinus yang memiliki kualitas yang setara. Pembuatan kertas ini melalui proses pencampuran kertas kayu pinus bekas yang dhancurkan dengan sodium sulfit (Na2SO3). Dalam pembuatannya derajat keasaman pH, kelembaban, konsentrasi amilum yang mengandung mikroorganismee, ketahanan terhadap robekan dan porositas semuanya tidak dikendalikan. Tidak direkomendasikan menggunakan bahan ini.

Surgical Grade Crepe Paper
Kertas ini dibuat dari serat selulosa dan memimliki porositas 0,1 micron. Memiliki berat 60 – 65 gram/m2 dan pH netral. Pengemas ini dapat digunakan untuk mengemas linen atau bahan dengan volume yang besar. Kertas ini memiliki fleksibilitas dan resistensi yang memadai untuk menjadi pengemas. Bahan ini relatif tahan terhadap air dan tidak melepaskan serat, dan tidak mengiritasi kulit.
Penggunaan kertas ini dapat digunakan untuk sterilisasi uap dan sterilisasi etilen oksida. Mudah kusut dan tidak boleh digunakan kembali. Paling umum digunakan sebagai pengemas bagian dalam.

Mixed Paper (Pouches)
Pouches merupakan kombinasi antara kertas medical grade dan polimer transparan. Pouches merupakan pengemas yang paling umum di pelayanan sterilisasi sentral. Pouches meliputi lapisan transparan yang memungkinkan instrumen terlihat dari luar dan kertas yang menutupi. Pouches dapat menahan tekanan, robekan dan lubang, dapat direkatkan menggunakan panas, mudah dibuka dan mengandung indikator kimia kelas 1. Bentuk pouches bermacam-macam dari jenis ukurannya dan terdapat dalam bentuk amplop yang siap direkatkan.
Pouches kompatibel dengan sterilisasi uap dan etilen oksida serta low temperature steam formaldehyde

Jenis Pengemas dan Penggunaannya

Jenis pengemas harus dipilih agar sesuai dengan metode sterilisasi yang digunakan. Tidak ada keraguan bahwa untuk mengemas peralatan kesehatan, instrumen dan bahan medik habis pakai steril yang akan digunakan oleh pasien, hanya produk yang sesuai yang dapat digunakan. Produk yang sesuai yaitu produk dengan tingkatan medical grade.
Sangat penting untuk tidak lagi menggunakan, atau membuang, druum trays, tromol, kertas koran, dan kertas daur ulang lainnya yang tidak terkontrol dan memiliki kualitas yang rendah.
Pengemas sterilisasi dapat diklasifikasikan dari pabrikan yaitu medical grade, non-medical grade dan rigid container. Pada tingkatan ini terdapat bahan yang dapat digunakan ulang dan barang yang sekali pakai.
Istilah medical grade digunakan oleh pabrikan pengemas untuk menunjukkan bahwa bahan didesain secara spesial untuk pengemas dan proses pembuatannya distandarisasi. Tipe pengemas medical grade memiliki porositas tidak lebih dari 0,5 micron dan penolakan pada air.
Untuk pengemas yang tidak memiliki medical grade, proses pembuatannya tidak terstandar dan dapat tidak memenuhi karakteristik fisik untuk menjaga kondisi steril dari barang yang telah disterilkan. Umumnya bahan yang tidak mmencapai medical grade tidak memiliki jaminan kualitas yang mengatur permeabilitas, resistansi, dan porositas sebagai pengamas barang steril. Sehingga pengemas non-medical grade, tidak layak untuk penahan kontaminasi. Bahan pengemas yang non-medical grade biasanya berasal dari selulosa, katun, linen, atau campuran katun dan poliester.

Kain Woven (Woven Cloths)
Pada umumnya kain dibuat dari katun (kapas) atau campuran katun dan poliester dengan jumlah rajutan 55 thread/cm2 yang terdiri dari 28 thread dan 27 thread pada masing-masing sisi. Total 140 thread/inchi2 yang digunakan dalam pengemasan rangkap.
Instruksi penggunaan:
Pengemas Katun atau campuran katun dan poliester (140 thread/inchi2) harus digunakan dalam pengemasan rangkap. Ini merupakan pengemas dengan barrier terhadapa kontaminasi yang paling rendah. Dapat digunakan untuk sterilisasi etilen oksida dan sterilisasi uap. Pengemas ini harus dicuci, bebas dari serat dan diinspeksi sebelum digunakan.

Pengemas Kain Jeans (160 threads/inchi2) sebaiknya digunakan dalam pengemasan rangkap. Dapat digunakan untuk sterilisasi etilen oksida dan sterilisasi uap. Kain jean sebelum digunakan sebaiknya dicuci, bebas dari serat dan diinspeksi sebelum digunakan.

Cloth Barrier (272-288 thread/inchi2) resisten pada cairan dan memiliki penetrasi yang baik pada uap dan etilen oksida. Karena jenis kain ini dapat mencahan kelembaban, wwaktu pengeringan harus ditingkatkan. Kain ini harus dicuci, bebas dari serat dan diinspeksi sebelum digunakan.

Kain woven harus dicuci diantara penggunaan untuk mengembalikan kandungan kelembaban dan memastikan kapasitas filtrasi dari serat kain. Pencucian yang berulang akan mengurangi efisiensi sebagai pengaman, sehingga waktu penyimpanan harus dikurangi.
Material ini sangat mungkin mengalami kerusakan dan terjadi perubahan pada penggunaan. Inspeksi sebelum penggunaan menjadi wajib untuk dilakukan. Apabila terdapat lubang atau robekan maka penggunaan adhesive tape dapat digunakan. Menjahit kain yang lubang sebaiknya tidak digunakan karena akan merusak alur rajutan dan memungkinkan masuknya partikel asing.
Harus diingat pula bahwa bahan tekstil bukan bahan yang dapat menolak air. Lakukan kehati-hatian untuk mencegah kelembaban yang berlebihan dengan menutupi kemasan dengan penutup plastik apabila akan digunakan pada waktu yang lama. Penutup plastik juga dapat melindungi dari partikel debu.

Kain Non-Woven (Unwoven Cloth)
Kain ini merupakan kombinasi antara selulosa dan serat sintetis ata 100% serat sintetis yang digabung dengan metode pabrik, bukan metode tradisional. Penggabungan ini menggunakan peleburan serat dan resin kemudian dikeringkan. Pengemas ini disposable (sekali pakai). Dibandingkan dengan kain tradisional maka penggunaan kain non-woven menghilangkan proses pencucian dan inspeksi.
Instruksi Penggunaan:
Kain non-woven tahan terhadap cairan dan memiliki penetrasi yang baik pada uap dan etilen oksida. Karena dapat menahan kelembaban maka waktu pengeringan harus ditambah

Kriteria Pemilihan Pengemas-2

Pada saat ini banyak sekali perusahaan yang menawarkan produk pengemas. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi awal dalam memilih produk sehingga memenuhi kriteria yang dibutuhkan.
Tujuan utama pengemasan adalah membawa barang yang akan disterlkan, menjaga sterilitas isi, dan memberikan teknik aseptik. Pengemas di lain hal, juga harus memikirkan prinsip efektivitas dan pengurangan biaya bagi rumah sakit.
Kriteria di bawah ini dapat membantu pemilihan pengemas yang sesuai dan efektif

Repellency/ Penolakan
Pengemas proses sterilisasi harus dapat menolak cairan seperti air atau larutan normal saline. Hal ini untuk mencegah adanya penetrasi cairan dan menjaga sterilitas isi barang yang disterilkan.
Pengujian yang umum dilakukan untuk melihat derajat penolakan adalah pengujian Mason jar, yang melakukan simulasi penggunaan kritis. Kapasitas penetrasi cairan ke dalam bahan pengemas diuji dengan meletakkan larutan normal saline ke dalam gelas kaca (mason jar) dan dilakukan penutupan pada mulut gelas kaca dengan bahan pengemas yang diuji. Gelas kaca kemudian dibalik sehingga gelas pada bagian atas dan bahan pengemas di bagian bawah. Waktu yang diperlukan bagi cairan untuk menembus bahan pengemas dihitung.
Waktu yang lebih lama bagi normal saline untuk menembus bahan pengemas, dihitung dalam menit dan detik, ekuivalen dengan fungsi perlindungan yang lebih efisien. Paling tidak dibutuhkan waktu 30 menit untuk bahan pengemas dianggap dapat diterima.

Sebagai tambahan dari penolakan terhadap air, bahan pengemas juga harus menunjukkan penolakan terhadap alkohol. Hal ini disebabkan banyaknya cairan di rumah sakit yang mengandung alkohol. Prosedur umum yang dilakukan yaitu meneteskan tiga tetes larutan alkohol pada permukaan bahan pengemas. Setelah lima menit, bahan pengemas dilakukan pengamatan untuk melihat apakah terdapat penetrasi. Larutan awal sebaiknya tidak mengandung alkohol; kemudian dinaikkan konsentrasi alkohol sebanyak 10% setiap 5 menit dari paparan. Penolakan terhadap alkohol dilihat dengan persentase tertinggi yang tidak berpenetrasi dalam jangka waktu lime menit. Bahan pengemas yang tidak terpenetrasi dengan larutan alkohol 70% (range 7) selama 5 menit merupakan bahan pengemas yang dapat diterima.

Kemampuan Mempertahankan Posisi
Setelah bahan pengemas ikut dalam proses sterilisasi dan siap dibuka dalam lingkungan steril, proses pembukaan kemasan harus mudah dan tetap menjaga proses asepsis. Bahan pengemas harus dapat bertahan pada posisi yang sama pada proses pembukaan dan tetap asepsis dengan tidak memberikan lubang yang memberikan akses pada barang yang disterilkan.

Ease of Handling, Kemudahan Penanganan
Bahan pengemas unwoven harus mudah ditangani dalam persiapan proses pengemasan. Bahan pengemas harus lunak, elastis, dan mudah digunakan. Bahan yang lunak sangat penting dalam pencegahan iritasi kulit pada staf sterilisasi sentral yang melakukan proses pengemasan setiap hari. Bahan pengemas yang keras dan memiliki kelenturan yang rendah dapat menyebabkan potongan kecil yang dapat menyebabkan kontaminasi pada staf sterilisasi sentral dan pada pasien.

Kriteria Pemilihan Pengemas-1

Pada saat ini banyak sekali perusahaan yang menawarkan produk pengemas. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi awal dalam memilih produk sehingga memenuhi kriteria yang dibutuhkan.
Tujuan utama pengemasan adalah membawa barang yang akan disterlkan, menjaga sterilitas isi, dan memberikan teknik aseptik. Pengemas di lain hal, juga harus memikirkan prinsip efektivitas dan pengurangan biaya bagi rumah sakit.
Kriteria di bawah ini dapat membantu pemilihan pengemas yang sesuai dan efektif

Porositas/Permeabilitas
Material bahan pengemas harus memungkinkan agen sterilisasi untuk keluar masuk bahan pengemas namun tetap memberikan perlindungan yang sangat tinggi untuk perlindungan bakteri.
Laju aliran udara atau permeabilitas ditunjukkan dengan liter per menit setiap 100cm persegi. Laju aliran diperlukan untuk memastikan sterilitas isi kemasan. Nilai porositas yang rendah menunjukkan aliran udara yang yang lebih rendah dan nilai yang tinggi menunjukkan hasil yang lebih baik (steril).
Penetrasi yang baik dari uap atau gas etilen oksida sebagai contoh, memungkinkan proses sterilisasi yang lebih baik pada instrumen atau peratan kesehatan yang disterilkan. Sementara itu, kertas kraft, kertas crepe, dan beberapa jenis kertas lainnya seperti woven tidak memungkinkan penetrasi uap dan gas yang baik.
Pengujian sederhana yang dapat digunakan yaitu meniupkan asap rokok pada kain unwoven dan mengulang pengujian pada kertas. Dengan pengujian ini akan terlihat perbedaan antara dua pengemas tersebut.

Kekuatan
Faktor yang harus diperhatikan untuk menentukan kekuatan tipe pengemas untuk sterilisasi ada 3 yaitu: resistance to bursting, resistance to tearing, resistance to abrasion .


Mullen Burst tester

Burst Resistance menunjukkan ketahanan bahan pengemas dari robekan atau rusakan yang dibuat instrumen yang dikemas atau ujung dari tray instrumen. Burst Resistance dilihat dengan Mullen Burst Test. Pengujian ini menggunakan peralatan yang memiliki diafragma karet dengan ukuran 1 1/4 yang mendorong bahan pengemas hingga meletus. Tekanan yang dibutuhkan untuk mencapai letusan dihitung dengan satuan Pounds per Square Inch (PSI). Nilai yang lebih tinggi menunjukkan kekuatan bahan yang lebih tinggi.


Elmendorf tester

Tear Resistance tidak terlalu penting bila dibandingkan burst resistance, karena pengujian tear resistance menggunakan Elmendorf test hanya digunakan untuk melihat kekuatan kemampuan pengemas menjaga sobekan tidak meluas, setelah terjadi robekan.

Abrasion Resistance, sanga penting dilihat dari dua aspek: ketahanan bahan dari gesekan itu sendiri dan adanya partikel mikro yang dikeluarkan dari gesekan. Jika bahan pengemas sterilisasi mengalami kerusakan dengan adanya friksi, bahan menjadi lebih lemah dan dapat menyebabkan lubang atau robekan.

Lint atau Partikel
Bahan pengemas yang tidak menghasilkan serat atau partikel kecil direkomendasikan. Mikro partikel harus dihindari pada area dimana pasien melalui prosedur pembedahan.
Bahan pengemas sterilisasi yang dibuat dari bahan yang berserat mempunyai potensi resiko pada pasien karena serat merupakan bahan yang sering membawa mikroorganisme. Jika serat berpenetrasi pada jaringan steril pada pasien, maka dapat menyebabkan reaksi alergi pada pasien. Jika melakukan penetrasi pada jaringan pembuluh darah maka dapat menyebabkan emboli.
Abrasi dan gesekan merupakan sumber adanya serat. Sumber lain adalah ekstraksi mekanikal pada elemen berserat, misalnya pengambilan tape indikator pada permukaan pengemas dapa menyebabkan lepasnya serat. Secara ideal pengemas harus mempunyai koefisien pelepasan serat dan mikropartikel sebesar nol.